Selasa, 05 Juni 2012

Sejak Dahulu Begitulah Skripsi Deritanya Tiada Pernah Berakhir

Dear, All....
Kenalin, nama saya (*sok formal) Ardi, mahasiswa tingkat 4 di salah satu universitas yang ada di Medan. Tadinya saya mau ketik "Mahasiswa tingkat akhir" tapi takut dosa, soalnya mengingat kondisi negara yang serba carut-marut kayak gini, belum lagi suasana mencekam yang ada di timur tengah, tidak memungkinkan saya untuk segera tamat, jadi saya buat aja mahasiswa tingkat 4. Karena mungkin saya akan segera jadi mahasiswa tingkat 5 beberapa bulan lagi.

oke, langsung aja, sebenarnya saya pengen curhat disini, sama seseorang. Inisialnya Alitt Susanto alias mas @Shitlicious (*di jawa pake mas kan?). Boleh kan mas?

Saya beberapa bulan belakangan ini sangat sibuk dalam menggarap skripsi, ehm maksud saya proposal skripsi. Saya sendiri menggunakan metode paling ekstrim diantara rekan-rekan sejawat saya di kampus. Yaitu metode :
mencari masalah --> mengumpul bahan --> memahami konsep --> mengajukan judul --> garap proposal

Keunggulan dari metode ini adalah saya menjadi paham terhadap bidang yang ingin saya teliti dan lebih siap menghadapi serbuan-serbuan gerilya dari dosen penguji saat seminar kelak. Tapi kelemahan dari metode ini adalah, ketika judul yang diangkat mengalami kegagalan yang diakibatkan ketidakcocokan metode atau bentrokan penelitian dengan senior(*asli pengalaman pribadi).

Saya sendiri saat ini sudah agak malas menggarap skripsi. Rasanya seperti menelan buah durian pake sprite. Gak pake sprite aja uda ko-it alias modar, konon pake sprite. Kalo gak percaya cobain deh...
Gimana gak ngerasa kayak gitu coba, saya uda TIGA KALI ngerasain yang namanya DITOLAK. Bayangin men, 3 kali..!!! Ini lebih nyesek daripada waktu saya ditolak cewe dulu jamannya Fir'aun masih jadi anak Fixie (*contek kata-kata mas alitt). Pertama, waktu ngajuin judul pertama kali, waktu itu ditolak karena katanya (Dosen saya yang bilang nih, bukan rekayasa) emang tu bukan penelitian, tapi mang udah ada peraturan darisononya, trus uda ada dibuku. Yang jadi pertanyaan adalah gimana ceritanya tu bisa jadi buku kalo hal semacam itu gak bisa disebut sebagai penelitian. Parahnya setelah saya cek di rak skripsi kampus, ada malah penelitian lebih gak berbobot daripada yang mau saya buat. But, its oke..! Masih permulaan. Tapi efeknya saya gak mau berhubungan dengan skripsi selama 1 bulan. Kemudian saya ulang tahun dan nerima paket dari temen yang isinya buku "SKRIPSHIT" nya mas Alitt. Hasilnya? Saya ngakak gak bisa nahan tawa sambil kentut.

Setelah membaca cerita yang cukup menyedihkan tentang skripsinya mas alitt, saya jadi bersemangat mengerjakan skripsi. Iya..iya...proposal skripsi maksud saya. Tapi pesan yang dapat saya tangkap dari buku itu adalah : "jangan pernah meminjamkan flashdisk yang ada skripsinya sama temen" soalnya ntar bakal ilang di warnet.
wkwkwkwkwk

Kemudian setelah saya mengerjakan skripsi dengan begitu sangat bersemangatnya, sekitar 80%an dah, karena saya pikir judul saya kali ini uda klop dan dijamin yahut, saya jalan-jalan ke kampus, ngeliatin perkembangan cewe-cewe kampus, uda lama juga saya gak ngeliat wajah transparan cewe-cewe kampus. Dan petaka pun bermula saat itu, salah seorang dosen yang cukup memberikan perhatian kepada saya (*gak tau dah naksir ato apa) bertanya tentang bagaimana perjalanan karir perskripsian saya. Saya jawab aja dengan polos 
"lagi jalan buk". 
Terus beliau tanya, "mau ngebahas apa kira-kira?".
Saya jawab aja dengan sangat amat meyakinkan
"saya mau bahas analisis kontrastif makna...." 
waktu itu saya belum selesai ngomong tapi beliau uda potong pembicaraan
"makna itu tidak bisa dianalisis secara kontastif..bla..bla..bla"
Saya uda gak ingat lagi beliau bilang apa karena otak saya langsung nge-blank dan mendadak encer kayak eskrim. Dan kemudian saya sadar, saya uda dua kali DITOLAK. Kali ini cukup nyesek karena tu proposal uda hampir jadi. Tapi semua melayang sudah. Tapi untunglah kemudian beliau memberikan saya solusi untuk tetap membahas kajian yang uda saya kumpulkan sejak saya memulai membuat proposal itu beribu-ribu jam yang lalu.
Singkat cerita, saya uda rampung proposal saya yang ketiga hari minggu kemaren. Dan saya dengan sangat harap-harap cemas mengirim sms ke semua temen-temen, junior-junior, dan kerabat serta sanak saudara. Seandainya saya punya nomer tukang sapu, tukang parkir dan satpam kampus, mungkin mereka juga uda ketiban sms saya. Isinya kurang lebih meminta doa restu supaya saya jangan sampe ditolak untuk ketiga kalinya. Karena kalo sampe ditolak juga, mungkin saya akan segera menuju tiang jemuran terdekat buat gantung KTM saya yang uda lecek.
KeSKRIPSHITan ini mulai terasa ketika malamnya saya mimpi buruk (*tapi uda gak ingat begitu saya bangun tidur). Paginya, saya dengan riang gembira berangkat ke kampus terciNTAH sambil menyanyikan lagu sherina (*kayaknya pernah baca kata-kata ini dimanaaa gitu..XD). Dengan harapan hari ini saya tidak ditolak lagi. Tapi ternyata begitu saya sampai di kampus, saya mendapat kabar dukacita bahwa proposal saya yang ada di dalam tas berada dalam kondisi sekarat dan terancam meninggal. Karena penelitian yang saya angkat dan satu-satunya penelitian yang lulus uji emisi dari semua penelitian yang pernah saya buat, juga diangkat oleh senior saya angkatan 2007. Pertanyaannya adalah kenapa bapak kajur menerima aja waktu saya mengajukan judul tersebut?????
Akhirnya saya disuruh duel dengan senior saya keesokan harinya, tepatnya tadi pagi. Maksudnya saya harus membandingkan isi proposal saya dengan isi proposal senior saya. Dan kalau memang terbukti sama, maka proposal saya harus segera dibunuh demi ketentraman dunia karena senior saya sudah duluan mengangkat tema itu.

Setelah saya ketemu dengan senior saya itu, dengan ditengahi oleh dosen saya yang perhatian itu, kami berunding. Saya sih uda gak mampu lagi berkata-kata. Isi kepala saya dipenuhi dengan angka 3 sampe rambut saya pun mulai mengkriting dan membentuk angka 3. Tapi dosen saya yang penuh perhatian itu memberikan satu keputusan yang cukup bijak karena sejak awal penelitian kami memang berbeda tapi senior saya itu diarahkan ke penelitian yang mau saya angkat, dengan membagi penelitian senior saya menjadi dua dan dia harus memilih antara sinonim atau perubahan makna. Sialnya dia keukeh pengen ngebahas dua-duanya (*serakah bener). Tapi begitu sidang selesai, dia nangis-nangis kayak depe yang kalah dari jupe. Saya jadi kasian dan dia saya suruh aja ngebahas dua-duanya. Dan saya pun gagal lagi dalam proposal.

Oh Tuhan, apakah salah hambamu ini....
*nangis di bawah tiang jemuran
Oiya, disaat-saat kayak gini saya malah teringat peribahasa yang sering diucapkan cu pat kay (*namanya cu pat kay atau ti pat kay sih?). Waktu dia maen pelem kera sakti, dia sering bilang gini :
"Oh..sejak dahulu, begitulah Skripsi, deritanya tiada pernah berakhir"
Sekarang saya baru mengerti dan paham akan kata-kata itu.

Mas Alitt, minta sarannya dong...!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar